YOGYAKARTA, Suara Merdeka — Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dalam 24 jam pengamatan, gunung berapi aktif yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu menyemburkan lava pijar sebanyak 8 kali.
Semburan lava pijar tersebut semuanya mengarah ke Sungai Bebeng dengan jarak luncur bervariasi, mulai dari 900 meter hingga maksimum 1,8 kilometer dari puncak. Peristiwa ini berlangsung sepanjang periode pengamatan Senin, 20 April 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 WIB.
Lava pijar: 8 kali · Arah: Sungai Bebeng · Jarak maks: 1,8 km · Status: SIAGA (Level III)
Kepala BPPTKG, Dr. Agus Budi Santoso, menyatakan bahwa aktivitas gunung saat ini masih dalam kondisi yang dapat diprediksi dan terkendali. "Masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah kami keluarkan," tegasnya saat dihubungi Suara Merdeka, Senin (20/4/2026).
Selain lontaran lava pijar, gunung dengan ketinggian 2.930 meter di atas permukaan laut itu juga menghasilkan 12 kali guguran dengan jarak luncur 200 hingga 1.500 meter ke Barat Daya dan Barat (Sungai Bebeng dan Krasak). Kegempaan tercatat 45 gempa guguran, 3 gempa vulkanik dangkal, dan 1 gempa tektonik jauh.
BPPTKG meminta masyarakat dan wisatawan tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya, yakni dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi, serta mewaspadai bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak.
Pos pengamatan Gunung Merapi di Kaliurang, Balerante, Ngepos, dan Babadan tetap aktif 24 jam. Warga diminta mengikuti informasi resmi dari BPPTKG dan tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah Kabupaten Sleman dan Magelang juga telah menyiagakan tim penanggulangan bencana untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Jalur evakuasi telah disiapkan dan warga di zona bahaya diminta untuk selalu siap siaga.